FIK UPNVJ – Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) melaksanakan kegiatan benchmarking dalam rangka pengembangan Program Studi Magister Artificial Intelligence (S2 AI) ke Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB). Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin, 9 Maret 2026 bertempat di Ruang Rapat STEI ITB, Gedung Labtek VIII Lantai 2, Kampus Ganesa Bandung. Kunjungan ini dipimpin oleh Dekan FIK UPNVJ, Prof. Dr. Ir. Supriyanto, S.T., M.Sc., IPM., bersama tim yang terdiri dari pimpinan fakultas, dosen, dan tenaga kependidikan. Tim FIK UPNVJ diterima secara langsung oleh dekan STEI Prof. Dr. Ir. Tutun Juhana, S.T., M.T dan dosen STEI ITB, di antaranya Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. techn. M. Zuhri Catur Candra, S.T., M.T., Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Dr. Eng. Ir. Arwindra Rizqiawan, S.T., M.T., serta beberapa kaprodi dan kepala laboratorium di lingkungan STEI ITB.

Kegiatan benchmarking ini bertujuan untuk memperoleh wawasan dan praktik terbaik dalam pengembangan program studi baru, khususnya terkait perencanaan kurikulum, pengelolaan keilmuan, serta penguatan riset dan laboratorium untuk mendukung penyelenggaraan Program Studi Magister Artificial Intelligence di FIK UPNVJ. Dalam diskusi yang berlangsung secara interaktif, beberapa hal strategis yang dibahas antara lain terkait mekanisme pembukaan program studi baru di ITB. Pihak STEI ITB menjelaskan bahwa pembukaan program studi umumnya diawali dari konsentrasi atau peminatan yang telah berjalan pada program studi yang ada. Pendekatan ini digunakan untuk melihat animo mahasiswa serta memastikan keberlanjutan (sustainability) program studi sebelum dibuka secara mandiri. Selain itu, dibahas pula perbedaan antara program magister akademik dan magister vokasi. Perbedaan utama terletak pada perumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang disesuaikan dengan orientasi program. Program magister akademik lebih menekankan pada kemampuan riset dan pengembangan keilmuan, sedangkan magister vokasi lebih berorientasi pada penerapan dan kebutuhan industri.

Dalam hal kurikulum, disampaikan bahwa jumlah beban studi untuk program magister saat ini mengacu pada peraturan terbaru dengan total sekitar 42 SKS. Kurikulum tersebut dirancang agar mahasiswa dapat mengembangkan kompetensi akademik, kemampuan riset, serta penerapan keilmuan sesuai dengan bidang yang dipilih.

Pembahasan juga mencakup dukungan fasilitas laboratorium. STEI ITB menjelaskan bahwa laboratorium yang dibangun harus selaras dengan Kelompok Keahlian (KK) yang dikelola oleh fakultas. Laboratorium tersebut terdiri dari laboratorium pendidikan untuk kegiatan pembelajaran dan laboratorium riset yang mendukung aktivitas penelitian dosen dan mahasiswa. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pembentukan Kelompok Keahlian (KK) di ITB didasarkan pada bidang keilmuan program studi yang mengacu pada peta keilmuan global seperti ACM Computing Classification System. Penentuan bidang keilmuan juga mempertimbangkan akar keilmuan dosen serta bidang riset yang menjadi fokus penelitian dosen di institusi tersebut. Dalam pengembangan kurikulum, penamaan mata kuliah disusun berdasarkan kebutuhan program studi dan mengacu pada kriteria yang ditetapkan oleh program studi dan kelompok keahlian. Hal ini bertujuan agar kurikulum tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan industri.

Selain itu, mahasiswa pada program magister di ITB mulai diarahkan untuk memilih topik penelitian sejak semester kedua yang disesuaikan dengan kelompok keahlian yang ada. Mata kuliah pilihan pada program tersebut umumnya berjumlah sekitar 6 SKS, sementara kegiatan riset mandiri menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa untuk menyusun tesis. Terkait dengan persyaratan kelulusan, program magister di ITB memberikan beberapa skema penyelesaian studi yang dapat berupa tesis, studi kasus, proyek, maupun riset. Skema ini disesuaikan dengan karakteristik program studi dan capaian pembelajaran yang ingin dicapai. Pada aspek mutu akademik, STEI ITB juga menekankan pentingnya akreditasi internasional. Salah satu persyaratan yang diterapkan adalah calon mahasiswa harus memiliki latar belakang pendidikan yang linier dengan program studi yang dituju. Apabila latar belakang pendidikan tidak sesuai, mahasiswa diwajibkan mengikuti program matrikulasi sebelum mengikuti perkuliahan inti.

Selain itu, STEI ITB juga memiliki target peningkatan kinerja bagi setiap Kelompok Keahlian (KK), yang meliputi peningkatan penelitian, inovasi pembelajaran, serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Target tersebut menjadi bagian dari strategi pengembangan institusi dalam meningkatkan kualitas akademik dan reputasi internasional. Melalui kegiatan benchmarking ini, diharapkan Fakultas Ilmu Komputer UPN “Veteran” Jakarta memperoleh berbagai masukan dan praktik terbaik yang dapat menjadi referensi dalam perencanaan dan pengembangan Program Studi Magister Artificial Intelligence. Hasil diskusi ini akan menjadi bahan penting dalam penyusunan kurikulum, penguatan struktur keilmuan, serta pengembangan ekosistem riset yang mendukung keberhasilan program studi tersebut di masa mendatang.

Share