FIK UPNVJ – Dalam rangka melanjutkan komitmen untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman, inklusif, serta responsif terhadap isu kekerasan seksual di era digital, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) melalui program kerja LINUKS (Perlindungan untuk Kekerasan Seksual) kembali menyelenggarakan kegiatan edukatif dalam bentuk webinar bertajuk “Break the Silence in Digital Space: Hak dan Dukungan bagi Korban Kekerasan Seksual.”

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 2 Mei 2026, secara daring melalui Zoom Cloud Meetings dari pukul 13.00 WIB hingga 16.00 WIB. Pada webinar ini, kami mengundang Yosephine Dian Indraswari S.Psi, M.Si. (Dosen Psikologis dan Ahli bidang PPKS) dan Aliyati Ulil I. (Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Mahasiswa BEM UPNVJ 2026). Kegiatan ini turut dihadiri oleh Bapak Prof. Dr. Ir. Supriyanto, ST., M.Sc., IPM. selaku Dekan FIK UPN “Veteran” Jakarta, yang memberikan apresiasi serta dukungan penuh atas terselenggaranya wadah ruang diskusi dan edukasi ini.

Webinar LINUKS terbuka untuk mahasiswa dan masyarakat umum. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai berbagai bentuk kekerasan seksual di ruang digital, seperti pelecehan online, penyebaran konten intim tanpa persetujuan, hingga eksploitasi berbasis teknologi. Selain itu, webinar ini juga membahas hak-hak yang dimiliki oleh korban, termasuk hak atas perlindungan, pemulihan, dan keadilan.

Melalui forum ini, peserta diajak untuk memahami pentingnya menciptakan ruang digital yang aman serta peran individu dalam memberikan dukungan kepada korban, baik secara emosional maupun sosial. Webinar ini juga mendorong keberanian untuk bersuara (break the
silence) serta membangun budaya yang tidak menyalahkan korban (non-victim blaming), sehingga tercipta lingkungan yang lebih empatik, suportif, dan inklusif. Kami menghadirkan dua pembicara yang kompeten di bidangnya. Narasumber pertama yaitu Ibu Yosephine Dian Indraswari, S.Psi., M.Si.. Beliau memaparkan materi secara mendalam dan interaktif mengenai kekerasan seksual, khususnya yang terjadi di ruang digital.

Dalam pemaparannya, peserta diajak memahami konsep dasar kekerasan seksual, pentingnya consent, serta berbagai bentuk kekerasan berbasis gender online (KBGO) seperti cyber harassment, penyebaran konten intim tanpa persetujuan, hingga sextortion. Selain itu, beliau juga menjelaskan dampak yang dialami korban, baik dari segi psikologis, sosial, maupun mental, yang bisa berlangsung dalam jangka pendek hingga panjang.

Tidak hanya itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai hak-hak korban, layanan yang dapat diakses seperti layanan kesehatan, bantuan hukum, hingga dukungan psikologis, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan jika mengalami atau mengetahui kasus kekerasan seksual, termasuk pentingnya menyimpan bukti dan melapor kepada pihak berwenang.

Dilanjutkan dengan narasumber kedua yaitu Kak Aliyati Ulil I. Beliau menyampaikan materi yang tidak kalah menarik dengan menekankan peran mahasiswa dan lingkungan kampus dalam menciptakan ruang yang aman dan suportif bagi korban.

Dalam sesi ini, peserta diajak untuk memahami pentingnya keberanian untuk bersuara (break the silence), serta bagaimana cara memberikan dukungan kepada korban tanpa menghakimi. Selain itu, dibahas juga peran teman, organisasi mahasiswa, dan institusi kampus dalam proses pencegahan, pendampingan, hingga penanganan kasus kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi.

Kedua sesi berlangsung secara interaktif, di mana peserta aktif bertanya, berdiskusi, serta berbagi pandangan terkait isu yang dibahas, sehingga menciptakan ruang belajar yang aman, terbuka, dan penuh empati.

Dibuka oleh sambutan dari perwakilan BEM FIK UPNVJ dan dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi, diskusi, hingga pengerjaan postest oleh peserta, webinar ini berhasil menarik perhatian lebih dari 200 peserta yang mengikuti secara daring melalui platform Zoom. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan, sharing pengalaman beberapa peserta, dan diskusi yang muncul selama acara berlangsung.

Share