Jakarta, 14 September 2026 – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari navigasi perjalanan, rekomendasi tontonan dan belanja, penerjemah, hingga fitur pengenalan wajah pada telepon genggam, AI telah hadir dalam berbagai aktivitas tanpa selalu disadari oleh penggunanya.

Melihat perkembangan tersebut, Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) memberikan pembekalan literasi AI melalui materi “Mengenal AI: Teman atau Ancaman?” yang disampaikan oleh Anis Masruriyah, S.Kom., M.Kom. Materi tersebut dirancang untuk memperkenalkan AI secara sederhana, mulai dari cara kerja, manfaat, keterbatasan, hingga risiko penggunaannya.

Dalam materi tersebut, peserta diajak memahami bahwa AI merupakan teknologi yang memungkinkan komputer melakukan tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia. Namun, AI tidak “mengetahui” sesuatu seperti manusia. AI bekerja dengan mempelajari pola dari data dan menghasilkan keluaran berdasarkan pola yang telah dipelajarinya.

Pemahaman tersebut menjadi penting karena AI sebenarnya sudah berada di sekitar masyarakat. Dalam aktivitas komunikasi, AI dapat hadir melalui penerjemah, keyboard prediktif, dan autocorrect. Saat bepergian, AI digunakan dalam navigasi dan prediksi kemacetan. Dalam belanja dan hiburan, AI dimanfaatkan untuk memberikan rekomendasi produk, film, video, maupun musik. Bahkan pada sektor perbankan, AI dapat digunakan untuk mendeteksi transaksi yang mencurigakan. PPT_20260914

Salah satu bagian yang diperkenalkan adalah AI generatif (Generative AI), yaitu jenis kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan konten, ide, atau data baru berdasarkan instruksi pengguna. Teknologi ini dapat membantu menjawab pertanyaan, menjelaskan sesuatu, membuat tulisan, mencari ide, merangkum, menerjemahkan, hingga membantu merencanakan berbagai kebutuhan.

Meski memiliki banyak kemampuan, AI bukanlah teknologi yang selalu benar. Peserta diingatkan bahwa AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi sebenarnya keliru. Kesalahan tersebut dapat terjadi karena data yang digunakan tidak sempurna, pola yang dipelajari keliru, instruksi pengguna kurang jelas, atau karena AI tidak memahami dunia sebagaimana manusia memahaminya.

Karena itu, kemampuan menggunakan AI perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. AI dapat bekerja cepat dan mengolah banyak data, tetapi manusia tetap memiliki kemampuan memahami konteks, pengalaman, empati, intuisi, serta pertimbangan nilai dan moral.

Materi juga memberikan perhatian khusus terhadap sejumlah risiko AI, antara lain informasi yang salah, persoalan privasi, penipuan, serta manipulasi atau deepfake. Perkembangan teknologi memungkinkan wajah, suara, foto, dan video dimanipulasi sehingga masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam menerima informasi digital.

Peserta juga diajak memahami bahwa keberadaan foto atau video tidak otomatis membuktikan bahwa sebuah informasi benar. Foto dapat diedit, suara dapat ditiru, video dapat dimanipulasi, bahkan pesan WhatsApp dapat dipalsukan. Karena itu, verifikasi melalui sumber atau jalur lain menjadi langkah penting sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, AI dapat digunakan sebagai asisten, misalnya untuk mencari ide menu, merencanakan perjalanan, mencari ide hadiah, menjelaskan pelajaran anak, membuat ucapan, menyusun daftar kebutuhan rumah, hingga membantu merencanakan kegiatan keluarga. Namun, AI tetap ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai satu-satunya pihak yang mengambil keputusan.

Untuk menggunakan AI secara aman dan bijak, materi tersebut menekankan lima prinsip penting. Pertama, AI dapat membantu dan digunakan untuk mempermudah pekerjaan. Kedua, AI dapat salah, sehingga informasi yang diberikan tidak boleh langsung dipercaya. Ketiga, data pribadi harus dilindungi dan tidak sembarangan dimasukkan ke dalam sistem AI. Keempat, informasi penting, terutama terkait kesehatan, keuangan, hukum, dan berita, perlu diverifikasi. Kelima, keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.

Pemahaman tentang AI juga diperkuat melalui contoh sederhana mengenai perbedaan antara AI dan otomatisasi biasa. Google Maps yang memilih rute berdasarkan kondisi lalu lintas dan YouTube yang memberikan rekomendasi video termasuk contoh pemanfaatan AI. Sementara alarm yang berbunyi pada waktu tertentu atau mesin yang berhenti berdasarkan program yang telah ditentukan tidak otomatis dapat disebut AI.

Pada sesi praktik, peserta juga diperkenalkan dengan konsep prompt, yaitu cara memberikan instruksi kepada AI. Materi menunjukkan bahwa semakin jelas kebutuhan yang disampaikan kepada AI, semakin besar kemungkinan sistem menghasilkan keluaran yang sesuai. Peserta diberikan contoh bagaimana instruksi sederhana dapat dikembangkan menjadi instruksi yang lebih spesifik dan kontekstual.

Melalui pembekalan ini, FIK UPNVJ mendorong agar pemanfaatan AI tidak hanya dilihat dari sisi kemampuannya menghasilkan berbagai informasi dan konten, tetapi juga dari kemampuan penggunanya dalam memahami keterbatasan serta risiko teknologi tersebut.

AI bukan semata-mata teman ataupun ancaman. Cara manusia memahami, menggunakan, memverifikasi, dan mengambil keputusan atas bantuan AI-lah yang menentukan apakah teknologi tersebut akan menjadi alat pemberdayaan atau justru menimbulkan risiko. Dengan literasi yang memadai, AI dapat dimanfaatkan secara produktif sekaligus tetap digunakan secara aman, kritis, dan bertanggung jawab.

Share