Dari Kampus ke Pasar Digital: FIK UPNVJ Serahkan Lapak UMKM Berbasis OpenSID, Dorong Produk Warga Tajurhalang Menembus Pasar Lebih Luas

FIK-UPNVJ, Bogor, 9 Juli 2026 – Transformasi digital tidak seharusnya berhenti pada kota besar, perusahaan teknologi, atau bisnis dengan modal kuat. Bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tingkat lokal, teknologi justru dapat menjadi pintu untuk memperluas pasar, memperkuat identitas produk, dan membangun kemandirian ekonomi.

Semangat tersebut diwujudkan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) melalui program “Pemberdayaan Ekonomi Lokal Melalui Pengembangan Fitur Lapak UMKM pada Sistem Informasi Desa Berbasis OpenSID” di Kelurahan Tajurhalang, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor.

Puncak program dilaksanakan pada Kamis, 9 Juli 2026, di Filosofi Warkop, Kabupaten Bogor. Dalam kegiatan tersebut, Tim PkM FIK UPNVJ secara resmi menyerahkan aplikasi Lapak UMKM kepada Pemerintah Kelurahan Tajurhalang sekaligus memberikan pelatihan pengelolaan platform kepada 23 pelaku UMKM dan lima aparatur kelurahan.

Serah terima tersebut menjadi penanda penting bahwa inovasi teknologi dari perguruan tinggi dapat bergerak keluar dari laboratorium dan ruang kelas menuju persoalan nyata masyarakat: bagaimana membantu usaha lokal agar lebih mudah ditemukan, dikenal, dan diakses oleh calon konsumen.

Ketika Produk Lokal Bagus Belum Tentu Mudah Ditemukan

Tajurhalang memiliki pelaku usaha dengan beragam produk lokal. Namun, seperti tantangan yang dihadapi banyak UMKM, kualitas produk belum selalu diikuti kemampuan pemasaran digital yang memadai.

Sebagian pelaku usaha masih mengandalkan penjualan secara konvensional dan promosi dari mulut ke mulut. Akibatnya, produk yang sebenarnya memiliki potensi pasar lebih luas belum memperoleh eksposur digital secara optimal.

Persoalannya tidak sekadar tentang memiliki akun media sosial.

Transformasi digital UMKM membutuhkan kemampuan untuk menampilkan foto produk, menyusun deskripsi yang informatif dan menarik, mengelompokkan kategori produk, mencantumkan harga dan kontak, memperbarui informasi, serta memastikan konsumen dapat menemukan lokasi usaha.

Di sisi lain, Kelurahan Tajurhalang telah menggunakan OpenSID untuk mendukung sistem informasi dan layanan administrasi. Potensi tersebut kemudian dikembangkan lebih jauh melalui aktivasi fitur Lapak UMKM.

Pendekatannya sederhana tetapi strategis: mengembangkan situs kelurahan bukan hanya sebagai pusat informasi administrasi, tetapi juga sebagai etalase digital ekonomi masyarakat.

Teknologi Tepat Guna, Bukan Sekadar Aplikasi Baru

Program ini diketuai oleh Henki Bayu Seta, S.Kom., M.T.I., dengan anggota tim Theresiawati, S.Kom., M.T.I.; Dr. Nurul Chamidah, S.Kom., M.Kom.; Zatin Niqotaini, S.Tr.Kom., M.Kom.; Jayanta, S.Kom., M.Si.; Dr. Tjahjanto, S.Kom., M.M. dari FIK UPNVJ; serta Sumilir, S.E., M.M., CRP. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPNVJ.

Program ini juga melibatkan tiga mahasiswa, yakni Haikal Rafif Aulia Sakti, Fathir Deny Syahputra, dan Nugraha Adhitama Haryono.

Dari pihak mitra, kegiatan melibatkan Saipudin selaku Kepala Desa, Fadil Muhammad selaku Sekretaris, Parlan dari bidang kesejahteraan rakyat, aparatur setempat, serta 23 pelaku UMKM.

Ketua Tim PkM, Henki Bayu Seta, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak boleh diukur hanya dari selesainya proses pengembangan atau serah terima sistem.

“Kami berharap fitur Lapak UMKM ini tidak berhenti sebagai seremoni serah terima, tetapi benar-benar dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh Kelurahan Tajurhalang. Ini adalah bentuk nyata bagaimana teknologi informasi yang dikembangkan di kampus dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya pelaku UMKM yang selama ini kesulitan memasarkan produknya secara digital,” ujar Henki.

Pernyataan tersebut menegaskan paradigma penting dalam pengabdian masyarakat berbasis teknologi. Aplikasi bukan tujuan akhir. Perubahan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara mandiri merupakan dampak yang sesungguhnya.

Dimulai dari Mendengar Kebutuhan Masyarakat

Pengembangan Lapak UMKM tidak dilakukan melalui pendekatan satu arah. Rangkaian program dimulai dengan Focus Group Discussion (FGD) pada 2 Juli 2026 untuk memetakan kebutuhan, tantangan, dan kesiapan aparatur kelurahan serta pelaku usaha.

Pendekatan ini penting agar teknologi yang diterapkan tidak terputus dari kebutuhan pengguna.

Hasil FGD kemudian menjadi dasar pendampingan teknis pada 3–8 Juli 2026. Pada tahap tersebut, tim melakukan penyesuaian konfigurasi fitur Lapak UMKM pada OpenSID yang digunakan oleh Kelurahan Tajurhalang.

Tahap puncak dilaksanakan pada 9 Juli 2026 melalui pelatihan langsung dan serah terima aplikasi.

Dalam sesi pelatihan, peserta tidak hanya diperkenalkan dengan sistem secara teoritis. Mereka mempraktikkan cara mendaftarkan produk, mengelola data pelapak, menentukan kategori produk, menyertakan informasi kontak, serta menampilkan lokasi usaha pada peta digital.

Model pendampingan seperti ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pengembang sistem. Setelah proses pendampingan berakhir, aparatur dan pelaku UMKM diharapkan memiliki kemampuan untuk mengelola dan memperbarui informasi secara mandiri.

23 Pelaku UMKM Mulai Memasuki Etalase Digital

Salah satu dampak langsung program adalah terbukanya akses bagi 23 pelaku UMKM peserta untuk memanfaatkan fitur Lapak UMKM sebagai media promosi produk.

Berdasarkan pemantauan pada laman resmi kelurahan sebagaimana dilaporkan tim, fitur Lapak telah aktif dan mulai menampilkan katalog produk warga lebih dari satu halaman hasil pencarian. Hal tersebut menunjukkan bahwa platform tidak hanya selesai secara teknis, tetapi mulai diisi dan digunakan.

Bagi pelaku usaha, perubahan ini memiliki arti penting.

Produk yang sebelumnya dikenal terutama di lingkungan sekitar kini memiliki ruang promosi yang dapat diakses secara daring. Informasi mengenai produk, harga, kategori, lokasi usaha, dan kontak dapat ditemukan melalui platform yang terintegrasi dengan situs resmi pemerintah setempat.

Salah seorang peserta mengungkapkan manfaat praktis yang diperolehnya setelah mengikuti pelatihan.

“Setelah mengikuti pelatihan ini, saya jadi tahu cara mendaftarkan produk saya di Lapak UMKM, mulai dari foto, harga, kategori, sampai kontak WhatsApp. Semoga produk saya bisa dikenal lebih banyak orang, tidak hanya di sekitar kelurahan saja.”

Dari perspektif masyarakat, manfaat program ini terletak pada kesederhanaannya. Pelaku usaha tidak dipaksa menguasai sistem yang kompleks, tetapi didampingi menggunakan platform yang dekat dengan ekosistem pemerintahan lokal mereka.

Mendorong Pemerintahan Lokal yang Lebih Adaptif

Transformasi digital pemerintahan di tingkat lokal sering dipahami hanya sebagai pemindahan formulir dan informasi administratif ke dalam sistem daring. Program Lapak UMKM menawarkan perspektif yang lebih luas.

Sistem informasi pemerintah lokal dapat berkembang menjadi infrastruktur digital yang menghubungkan pelayanan publik dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Perwakilan aparatur Kelurahan Tajurhalang menyampaikan bahwa integrasi fitur tersebut dengan situs resmi kelurahan menjadi salah satu nilai penting dari program.

“Fitur Lapak UMKM ini sangat membantu kami karena terintegrasi langsung dengan situs resmi kelurahan. Sebelumnya banyak warga yang punya produk bagus tetapi belum tahu cara memasarkannya secara daring. Dengan pendampingan dari tim UPN ‘Veteran’ Jakarta, kami menjadi lebih siap mengelola dan mengembangkan fitur ini secara mandiri.”

Kesiapan aparatur untuk mengelola sistem menjadi faktor penting bagi keberlanjutan program. Digitalisasi yang baik membutuhkan pembagian tanggung jawab yang jelas, data yang diperbarui secara berkala, informasi yang dapat dipercaya, dan mekanisme pengelolaan yang transparan.

Dalam konteks pelayanan publik, model ini relevan dengan semangat pembangunan tata kelola yang lebih responsif dan melayani. Teknologi digunakan untuk memperpendek jarak antara pemerintah lokal, pelaku usaha, dan masyarakat.

Mahasiswa Belajar dari Persoalan Nyata

Keterlibatan mahasiswa memberikan dimensi pendidikan yang penting dalam program ini.

Haikal Rafif Aulia Sakti, Fathir Deny Syahputra, dan Nugraha Adhitama Haryono memperoleh pengalaman untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dan melihat bahwa keberhasilan implementasi teknologi tidak hanya ditentukan oleh kualitas kode program.

Sebuah sistem yang secara teknis baik belum tentu memberikan dampak jika sulit digunakan, tidak sesuai kebutuhan pengguna, atau tidak memiliki mekanisme keberlanjutan.

Melalui pengalaman lapangan, mahasiswa dapat belajar tentang analisis kebutuhan pengguna, komunikasi lintas kelompok, pendampingan literasi digital, implementasi sistem, serta evaluasi penggunaan teknologi.

Keterlibatan tersebut memiliki potensi rekognisi hingga 20 SKS melalui skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), sesuai ketentuan program yang berlaku.

Pengalaman semacam ini mempertemukan pembelajaran akademik dengan persoalan konkret masyarakat. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang sistem informasi sebagai teknologi, tetapi juga memahami sistem informasi sebagai instrumen perubahan sosial dan ekonomi.

Dari Pengabdian Masyarakat Menuju Luaran Ilmiah dan Kekayaan Intelektual

Program ini tidak hanya menghasilkan implementasi teknologi dan pelatihan masyarakat.

Tim pengabdi juga menghasilkan buku berjudul The Digital Village Entrepreneur: Langkah Nyata Membangun Bisnis Lokal yang Tangguh, Modern, dan Mandiri di Era AI.

Berdasarkan informasi yang diberikan tim, buku tersebut telah tercatat sebagai ciptaan pada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum Republik Indonesia, dengan Nomor Pencatatan 001335578 dan Nomor Permohonan EC002026109062, tertanggal 8 Juli 2026.

Tujuh pencipta yang tercatat dalam karya tersebut adalah Henki Bayu Seta, Theresiawati, Nurul Chamidah, Zatin Niqotaini, Jayanta, Tjahjanto, dan Sumilir.

Luaran tersebut menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat menghasilkan ekosistem pengetahuan yang lebih lengkap: mulai dari pemetaan masalah, penerapan teknologi, peningkatan kapasitas masyarakat, dokumentasi pengetahuan, hingga karya intelektual.

Program ini juga diarahkan pada luaran lain berupa publikasi ilmiah nasional terakreditasi, publikasi media massa, video kegiatan, dan modul panduan operasional Lapak Digital Desa.

Mendukung Ekonomi Lokal dan Infrastruktur Digital

Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, program Lapak UMKM memiliki hubungan dengan dua tujuan penting.

Pertama, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui upaya memperluas akses pasar dan meningkatkan kapasitas digital pelaku UMKM.

Kedua, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui pemanfaatan teknologi informasi sebagai bagian dari penguatan infrastruktur ekonomi digital di tingkat lokal.

Namun, kontribusi terhadap tujuan pembangunan tidak cukup dinilai dari kesesuaian tema. Ukuran yang lebih penting adalah keberlanjutan penggunaan platform setelah program selesai.

Karena itu, rencana pendampingan lanjutan menjadi elemen strategis. Tim pengabdi berharap semakin banyak produk unggulan warga yang masuk ke dalam katalog digital, informasi produk diperbarui secara konsisten, dan pengelolaan platform semakin mandiri.

Pengabdian Masyarakat yang Terukur dan Berkelanjutan

Dari perspektif mutu akademik, program ini mencakup rangkaian proses yang sistematis: penjaringan kebutuhan melalui FGD, pendampingan teknis, implementasi sistem, pelatihan pengguna, serah terima, dan rencana pendampingan lanjutan.

Kegiatan juga mempertemukan unsur perguruan tinggi, pemerintah lokal, dan masyarakat pelaku usaha.

Model kolaborasi tersebut menjadi penting karena transformasi digital masyarakat tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Kampus memiliki pengetahuan dan sumber daya keilmuan, pemerintah lokal memahami karakteristik wilayah dan kebutuhan warga, sementara masyarakat merupakan pengguna sekaligus penentu keberlanjutan inovasi.

Ketika ketiga unsur tersebut bekerja bersama, teknologi memiliki peluang lebih besar untuk benar-benar digunakan dan berkembang.

Kampus Berdampak Dimulai dari Masalah yang Nyata

Kegiatan di Tajurhalang memberikan pesan penting mengenai peran perguruan tinggi di tengah masyarakat.

Tidak semua inovasi harus dimulai dari teknologi yang rumit. Dalam banyak kasus, dampak justru lahir ketika teknologi yang tersedia dapat diterapkan secara tepat untuk menjawab persoalan yang nyata.

Bagi pelaku UMKM, persoalan tersebut adalah keterbatasan akses promosi dan pasar. Bagi aparatur lokal, tantangannya adalah bagaimana mengembangkan sistem informasi agar semakin bermanfaat bagi warga. Bagi mahasiswa, kebutuhan belajarnya adalah memperoleh pengalaman menghadapi persoalan pengguna sesungguhnya.

Program Lapak UMKM mempertemukan ketiga kebutuhan tersebut dalam satu ekosistem kolaborasi.

Bagi FIK UPNVJ, pengabdian kepada masyarakat semacam ini memperkuat peran fakultas sebagai ruang tempat ilmu komputer tidak hanya dikembangkan untuk kepentingan akademik, tetapi diterapkan untuk menyelesaikan persoalan publik.

Pada akhirnya, reputasi perguruan tinggi tidak hanya tumbuh dari apa yang dikatakan tentang dirinya, tetapi dari kualitas ilmu pengetahuan yang dihasilkan, integritas dalam bekerja, kemampuan berkolaborasi, dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Melalui Lapak UMKM berbasis OpenSID di Tajurhalang, teknologi informasi hadir dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: membantu sebuah produk lokal ditemukan, memberikan kesempatan usaha untuk dikenal lebih luas, dan membuka jalan menuju ekonomi lokal yang semakin adaptif terhadap era digital.

Salam Bela Negara!

Humas Fakultas Ilmu Komputer
UPN “Veteran” Jakarta

Share