FIK UPNVJ, Jakarta, 12 September 2026 – Perjalanan penuh perjuangan dan ketekunan dibagikan Dhi’fan Rozaka, S.Kom, lulusan Program Studi Informatika Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), saat menyampaikan ucapan terima kasih sebagai yudisudawan pada Wisuda ke-77 UPN “Veteran” Jakarta.

Di hadapan pimpinan universitas, jajaran fakultas, orang tua, keluarga, serta para wisudawan, Dhi’fan mengawali sambutannya dengan mengenang kekhawatiran yang pernah dirasakannya ketika menunggu hasil UTBK-SBMPTN. Namun, ia memilih untuk percaya bahwa pilihan Allah akan membawanya pada jalan terbaik.

Perjalanan kuliahnya pun tidak selalu berjalan mudah. Pada awal perkuliahan, pengajuan keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang diajukannya disetujui setelah mengikuti wawancara secara daring dengan almarhum Bapak Rudiho Purabaya yang saat itu menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Keuangan FIK UPNVJ.

Dalam wawancara tersebut, Rudiho melihat piala yang berada di kamar Dhi’fan dan meyakinkannya bahwa fakultas akan selalu berupaya memfasilitasi mahasiswa yang ingin berprestasi.

“Keringanan UKT ini sangat meringankan sekaligus memacu semangat saya untuk terus membuktikan diri,” ujar Dhi’fan.

Namun, tantangan berikutnya segera datang. Sebagai mahasiswa Ilmu Komputer, Dhi’fan harus menjalani proses pembelajaran dengan laptop lama peninggalannya sejak SMP. Keterbatasan perangkat tersebut membuat proses belajar menjadi tidak mudah, terlebih kondisi finansial saat itu belum memungkinkan dirinya membeli laptop baru.

Tidak ingin tertinggal, Dhi’fan memilih mencari jalan lain. Ia belajar secara mandiri dan menyelesaikan lebih dari 20 kursus daring untuk mengejar ketertinggalannya.

Memasuki semester dua, ia menargetkan untuk bergabung dengan kelompok studi mahasiswa sekaligus aktif mengikuti berbagai kompetisi di bidang software development. Akan tetapi, dua pengalaman pahit harus kembali dihadapinya. Ia ditolak bergabung dengan kelompok studi yang ditujunya dan tiga kompetisi awal yang diikutinya juga berakhir dengan kegagalan.

“Saya sempat meragukan diri saya sendiri. Masuk kelompok studi yang lingkupnya fakultas saja gagal, bagaimana bisa menang lomba yang lingkupnya lebih besar,” tuturnya.

Titik balik perjalanan Dhi’fan terjadi pada tahun ketiga perkuliahan. Berbekal gagasan aplikasi bernama Wicara, yang dikembangkan untuk membantu mengatasi ketakutan berbicara di depan umum atau public speaking, ia bersama tim berhasil membawa nama UPNVJ ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-37 di Universitas Airlangga.

Sejak keberhasilan tersebut, perjalanan Dhi’fan perlahan berubah. Ia dipercaya menjadi pengurus di kelompok studi yang sebelumnya menolaknya. Ia juga berhasil memenangkan sejumlah kompetisi software development, memperoleh kesempatan magang di Telkomsel dan Kumparan, hingga terpilih sebagai penerima Beasiswa Bank Indonesia.

Beasiswa tersebut bahkan menjadi salah satu jalan keluar dari persoalan perangkat yang selama ini dihadapinya.

Pengalaman tampil di PIMNAS kemudian mendorong Dhi’fan untuk kembali menargetkan PIMNAS ke-38 di Makassar. Ia memiliki motivasi sederhana: ingin merasakan naik pesawat untuk pertama kalinya secara gratis.

Namun, harapan tersebut belum terwujud karena timnya gagal pada tahap awal.

“Batal deh naik pesawat. Tapi percayalah bahwa Allah Maha Mengabulkan doa lewat skenario yang jauh lebih baik,” katanya.

Kesempatan lain kemudian datang melalui kompetisi inovasi nasional IndonesiaNEXT dari Telkomsel. Dari sekitar 9.000 pendaftar, Dhi’fan berhasil menjadi runner-up dan memperoleh kesempatan yang jauh melampaui ekspektasinya.

“Naik pesawat, dikabulkan jauh lebih melampaui ekspektasi. Bukan sekadar ke Makassar, melainkan langsung terbang ke luar negeri,” ungkapnya.

Dhi’fan kemudian mengaitkan perjalanan tersebut dengan filosofi “connecting the dots” yang pernah disampaikan Steve Jobs dalam pidatonya di Stanford University. Menurutnya, berbagai kejadian dalam kehidupan terkadang terlihat seperti titik-titik yang acak, bahkan mengecewakan ketika sedang dijalani. Namun, makna dari titik-titik tersebut sering kali baru terlihat ketika seseorang melihat kembali perjalanan hidupnya.

Kini, Dhi’fan menyadari bahwa berbagai pengalaman yang dahulu dianggap sebagai kegagalan mulai dari belajar melalui puluhan kursus, penolakan organisasi, hingga kegagalan dalam kompetisi justru menjadi rangkaian titik yang mengarahkannya kepada kesempatan-kesempatan berikutnya.

“Tanpa rentetan kegagalan tersebut, saya tidak akan terdorong mencari jalan lain yang akhirnya mengantarkan saya pada posisi saat ini yang sedang magang di Apple Developer Academy,” ujarnya.

Ia pun merefleksikan perjalanan tersebut dengan penuh rasa syukur. Mahasiswa yang dahulu harus bertahan dengan laptop lama kini mendapatkan kesempatan untuk belajar di lingkungan pengembangan teknologi dengan fasilitas perangkat seperti iPhone dan MacBook terbaru.

“Allah memang selalu merangkai titik-titik kehidupan menuju sesuatu yang jauh lebih baik di waktu yang tepat,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Dhi’fan juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan akademik dan prestasinya. Ia mengucapkan terima kasih kepada UPN “Veteran” Jakarta, UPA Pengembangan Karier dan Kewirausahaan, Fakultas Ilmu Komputer, serta secara khusus kepada Ibu Ati Zaidiah dan almarhum Bapak Rudiho Purabaya.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Radinal Setia Dinsa yang dinilainya telah sabar mendampingi perjalanan sejak PIMNAS hingga penyelesaian skripsi, serta kepada Bank Indonesia dan Telkomsel yang telah membuka berbagai kesempatan dalam perjalanan kariernya.

Dhi’fan mengingatkan bahwa keberhasilan seorang mahasiswa tidak pernah lahir dari perjuangan seorang diri. Di balik setiap pesan ucapan selamat, terdapat banyak pihak yang bekerja dan memberikan kesempatan, mulai dari penyeleksi berkas, panitia kompetisi, juri, mentor, dosen, hingga pengelola administrasi di tingkat program studi maupun fakultas.

“Meski kita tidak saling mengenal, lewat kerja keras merekalah banyak pintu kesempatan terbuka,” ungkapnya.

Ia pun mengajak para wisudawan untuk tidak hanya menikmati keberhasilan yang telah dicapai, tetapi juga mulai membuka jalan bagi orang lain.

Menurut Dhi’fan, gelar yang diperoleh para wisudawan dari Kampus Bela Negara bukan sekadar tanda telah menyelesaikan pendidikan. Gelar tersebut merupakan amanah untuk membawa ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama kuliah agar dapat memberikan solusi nyata bagi masyarakat.

“Mari kita bantu menggerakkan inovasi dan ekonomi agar Indonesia terus melangkah maju,” ajaknya.

Menutup sambutannya, Dhi’fan mengajak seluruh wisudawan untuk memberikan penghargaan kepada orang tua yang selama ini memberikan doa dan dukungan tanpa henti. Ia juga mengajak setiap lulusan untuk berterima kasih kepada diri sendiri karena telah mampu bertahan melewati berbagai tantangan.

“Terima kasih karena tidak menyerah saat dunia terasa menolak. Terima kasih karena mau berjuang menembus batas dan terima kasih karena selalu percaya pada rencana Sang Pencipta,” ucapnya.

Kepada seluruh wisudawan, Dhi’fan berpesan bahwa setiap orang memiliki perjuangan yang berbeda. Ada yang harus bekerja paruh waktu di kafe, menjadi pengemudi ojek daring untuk memenuhi kebutuhan kuliah, menempuh perjalanan puluhan kilometer dari Bogor maupun Bekasi, hingga harus berjauhan dari keluarga demi menyelesaikan pendidikan.

“Kita semua hebat dan pantas mendapatkan hari ini seperti siapapun di ruangan ini,” tegasnya.

Dhi’fan menutup sambutannya dengan pesan agar para lulusan terus berjuang, melakukan evaluasi, dan tidak takut untuk bangkit kembali ketika menghadapi kegagalan.

“Semoga mimpi itu lekas menjadi nyata untuk kita semua. Terima kasih, salam bela negara, dan sampai jumpa di puncak kesuksesan,” pungkasnya.

Salam Bela Negara !
Humas Fakultas Ilmu Komputer
UPN “Veteran” Jakarta

Share