Tagline: Perspektif Akademik terhadap Isu Strategis Teknologi Indonesia
Penulis: Rohani Situmorang | Tendik Fakultas Ilmu Komputer UPN Veteran Jakarta
FIK-UPNVJ, Jakarta, 20 Juli 2026 – Di tengah derasnya arus informasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), big data, dan percepatan transformasi digital, manusia modern justru menghadapi tantangan yang semakin mendasar: kehilangan kemampuan membedakan antara gejala dan penyebab. Kita hidup pada zaman ketika penilaian sering dibangun dari apa yang tampak di permukaan, sementara akar persoalan justru luput dari perhatian. Fenomena ini bukan hanya terjadi dalam kehidupan sosial, tetapi juga merambah dunia akademik, penelitian, hingga pengambilan kebijakan publik.
Sebuah refleksi filosofis yang sederhana namun mendalam menggambarkan hal tersebut:
“Ikan mencintai air, namun air merebusnya. Daun setia pada angin, namun angin menggugurkannya. Manusia menggantung hidupnya di tanah, namun tanah menguburkannya.”
Sekilas, narasi itu seolah menunjukkan bahwa kehidupan dipenuhi ironi dan ketidakadilan. Air dianggap sebagai penyebab kematian ikan, angin dituduh menjatuhkan daun, dan tanah dipersalahkan karena menjadi tempat peristirahatan terakhir manusia. Namun, ketika direnungkan lebih dalam, kesimpulannya berbeda.
Bukan air yang merebus ikan, melainkan api yang memanaskan air.
Bukan angin yang menggugurkan daun, melainkan perubahan musim yang mengakhiri siklus kehidupannya.
Dan bukan tanah yang menguburkan manusia, melainkan kematian yang pada akhirnya datang kepada setiap makhluk hidup.
Di sinilah letak pelajaran besar bagi dunia akademik: ilmu pengetahuan tidak berhenti pada apa yang terlihat, tetapi berusaha menemukan penyebab sebenarnya.
Akademisi Tidak Dididik untuk Menyalahkan, tetapi Memahami
Hakikat pendidikan tinggi bukanlah menghasilkan individu yang cepat menyimpulkan, melainkan melahirkan pemikir yang mampu menelusuri akar persoalan secara sistematis.
Dalam penelitian ilmiah, seorang peneliti tidak boleh berhenti pada korelasi. Ia harus mencari hubungan sebab-akibat (causality). Dalam pengembangan teknologi, seorang insinyur tidak cukup mengetahui bahwa sistem mengalami kegagalan, tetapi harus menemukan mengapa kegagalan itu terjadi. Dalam ilmu komputer, seorang ilmuwan data tidak hanya membaca pola, tetapi memahami faktor yang membentuk pola tersebut.
Inilah yang membedakan pendekatan akademik dengan opini biasa.
Ilmu mengajarkan bahwa setiap fenomena memiliki variabel, setiap variabel memiliki hubungan, dan setiap hubungan memiliki penyebab yang harus diuji, bukan diasumsikan.
Era Artificial Intelligence Membutuhkan Manusia yang Mampu Berpikir Lebih Dalam
Ironisnya, ketika teknologi semakin cerdas, manusia justru berisiko menjadi semakin dangkal apabila kehilangan kemampuan berpikir kritis.
Artificial Intelligence mampu menghasilkan jawaban dalam hitungan detik. Algoritma dapat mengenali pola dari miliaran data. Mesin dapat memprediksi perilaku manusia dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Namun, teknologi tidak selalu mampu menjawab pertanyaan paling mendasar:
Mengapa sesuatu terjadi?
Pertanyaan “mengapa” tetap menjadi wilayah manusia.
Karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk mahasiswa yang tidak sekadar mahir menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir analitis, reflektif, dan filosofis. Teknologi tanpa kebijaksanaan hanya akan mempercepat kesalahan yang sama dalam skala yang lebih besar.
Menyalahkan Takdir atau Mengevaluasi Pilihan?
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali mencari pihak yang dapat disalahkan ketika menghadapi kegagalan.
Mahasiswa menyalahkan dosen.
Dosen menyalahkan sistem.
Institusi menyalahkan regulasi.
Masyarakat menyalahkan pemerintah.
Padahal, banyak persoalan merupakan akumulasi dari keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari.
Dalam perspektif akademik, setiap tindakan memiliki konsekuensi. Setiap keputusan membawa implikasi. Setiap pilihan akan membentuk masa depan.
Karena itu, pendidikan tinggi bukan hanya mengajarkan kompetensi teknis, tetapi juga menanamkan tanggung jawab intelektual dan moral agar setiap keputusan diambil berdasarkan data, logika, etika, dan pertimbangan yang matang.
Filosofi yang Relevan bagi Dunia Riset
Dalam penelitian, kesalahan terbesar bukanlah mendapatkan hasil yang berbeda dari hipotesis, melainkan berhenti mencari penyebab mengapa hasil tersebut berbeda.
Peneliti yang baik tidak menyalahkan data.
Ia mengevaluasi metodologi.
Ia menguji ulang asumsi.
Ia memperbaiki desain penelitian.
Ia membuka kemungkinan adanya variabel lain yang belum teridentifikasi.
Budaya akademik seperti inilah yang melahirkan inovasi besar dalam sejarah ilmu pengetahuan. Penemuan-penemuan penting lahir bukan karena para ilmuwan menerima kenyataan apa adanya, tetapi karena mereka berani mempertanyakan akar persoalan.
Membentuk Generasi yang Rendah Hati terhadap Pengetahuan
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.
Kerendahan hati intelektual menjadi fondasi penting dalam kehidupan akademik. Sikap ini mendorong dosen, mahasiswa, dan peneliti untuk terbuka terhadap kritik, menghargai perbedaan pandangan, serta terus belajar sepanjang hayat.
Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan, tetapi ruang untuk membangun karakter ilmuwan yang jujur, bertanggung jawab, dan mampu melihat persoalan secara utuh.
FIK UPN “Veteran” Jakarta dan Budaya Berpikir Kritis
Sebagai institusi yang mengembangkan ilmu komputer, kecerdasan artifisial, sains data, sistem informasi, dan keamanan siber, Fakultas Ilmu Komputer UPN “Veteran” Jakarta memandang bahwa penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan cara berpikir ilmiah.
Mahasiswa perlu dibiasakan untuk tidak hanya bertanya “bagaimana sistem bekerja?”, tetapi juga “mengapa sistem dirancang demikian?”, “apa dampaknya bagi masyarakat?”, dan “bagaimana teknologi dapat digunakan secara bertanggung jawab?”
Budaya akademik yang kuat dibangun melalui keberanian mengajukan pertanyaan yang tepat, menguji asumsi secara objektif, serta menjadikan bukti sebagai dasar pengambilan keputusan.
Nilai-nilai tersebut juga selaras dengan semangat tata kelola perguruan tinggi yang mengedepankan integritas, akuntabilitas, transparansi, dan evaluasi berkelanjutan. Organisasi yang sehat tidak mencari kambing hitam ketika menghadapi tantangan, tetapi berani melakukan refleksi, memperbaiki proses, dan belajar dari setiap pengalaman.
Melihat Lebih Dalam dari Apa yang Tampak
Di era digital, informasi hadir begitu cepat sehingga manusia sering tergoda mengambil kesimpulan sebelum memahami konteks. Padahal, kebijaksanaan lahir dari kemampuan menunda penilaian, mengumpulkan bukti, dan melihat hubungan sebab-akibat secara utuh.
Refleksi tentang ikan, air, daun, angin, manusia, dan tanah mengingatkan bahwa apa yang tampak belum tentu merupakan penyebab sesungguhnya. Dunia tidak selalu kejam; sering kali pemahaman kita yang masih belum lengkap.
Bagi sivitas akademika, inilah esensi pendidikan tinggi. Menjadi akademisi bukan sekadar menguasai teori atau teknologi, tetapi membangun cara berpikir yang jernih, kritis, dan bertanggung jawab. Karena pada akhirnya, kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi yang diciptakan, melainkan dari kedewasaan manusia dalam memahami sebab, akibat, dan konsekuensi dari setiap tindakan.
Di ruang kelas, di laboratorium, maupun di tengah masyarakat, marilah kita menjadi insan akademik yang tidak mudah menyalahkan apa yang terlihat di permukaan, tetapi berani mencari akar persoalan, memperbaiki proses, dan menghadirkan solusi yang membawa manfaat nyata. Sebab, di situlah ilmu pengetahuan menemukan makna tertingginya: bukan sekadar menjelaskan dunia, tetapi membantu manusia memahaminya dengan lebih bijaksana.
Salam Bela Negara !
Humas Fakultas Ilmu Komputer
UPN Veteran Jakarta
Informasi lainnya dapat dilihat pada web UPNVJ
