Dr. Bambang Saras Yulistiawan, ST, M.Kom Berbagi Perspektif di Seminar “Digital Leadership” Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Kementerian Keuangan RI.

Jakarta, 16 Juli 2026
Transformasi digital sektor publik tidak ditentukan oleh banyaknya teknologi yang digunakan, melainkan oleh keberanian pemimpin untuk mengubah cara berpikir, cara bekerja, dan cara melayani masyarakat. Dr. Bambang Saras Yulistiawan, ST, M.Kom Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menyampaikan pesan tersebut dalam Seminar Digital Leadership: Learn Today, Lead Tomorrow yang diselenggarakan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen, BPPK, Kementerian Keuangan RI, pada 16 Juli 2026.

Di hadapan sekitar 130 peserta perwakilan dari berbagai satuan utama Kementerian Keuangan. Peserta berasal dari Sekretariat Jenderal; Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal; Direktorat Jenderal Anggaran; Direktorat Jenderal Pajak; Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; Direktorat Jenderal Perbendaharaan; Direktorat Jenderal Kekayaan Negara; Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan; Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko; Direktorat Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan; Inspektorat Jenderal; Badan Teknologi, Informasi, dan Intelijen Keuangan; serta Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. Bambang membawakan materi “Kepemimpinan Digital di Sektor Publik”. Pesan utamanya sederhana: digitalisasi tidak boleh dipahami hanya sebagai proyek teknologi. Digitalisasi harus menjadi gerakan kepemimpinan untuk menciptakan layanan publik yang lebih cepat, terbuka, terpercaya, dan berpihak pada kebutuhan masyarakat.

Perubahan Dimulai dari Cara Pemimpin Membaca Masa Depan

“Kegagalan transformasi digital bukan hanya soal teknologi, melainkan soal kepemimpinan yang tidak mampu membaca ke mana arah perubahan.”

Dr. Bambang menekankan bahwa teknologi dapat menghadirkan peluang, tetapi pemimpinlah yang menentukan arah dan nilainya. Ketika kepemimpinan masih bertumpu pada pola lama, teknologi berisiko hanya menambah kerumitan. Sebaliknya, pemimpin yang memiliki visi akan mampu menghubungkan teknologi dengan masalah nyata yang harus diselesaikan.

Karakter Digital Leadership yang Diperlukan

Kepemimpinan digital menuntut karakter yang berbeda. Pemimpin tidak cukup hanya memahami teknologi; ia harus berani belajar, terbuka terhadap perubahan, serta mampu menggerakkan kolaborasi lintas unit. Pertama, berpikir strategis dan berorientasi pada masyarakat. Teknologi harus diarahkan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar memenuhi target implementasi. Kedua, mengambil keputusan berbasis data. Data perlu menjadi dasar untuk memahami masalah, menentukan prioritas, dan membangun akuntabilitas. Ketiga, membangun budaya adaptif. Organisasi perlu memberi ruang untuk belajar cepat, bereksperimen secara terukur, dan memperbaiki proses secara berkelanjutan. Keempat, menjaga etika dan kepercayaan. Transformasi digital harus berjalan dengan transparansi, perlindungan data, keamanan, dan tanggung jawab terhadap dampaknya bagi masyarakat.

Teknologi Harus Memperkuat Manusia

“Teknologi hanyalah alat; pemimpinlah yang menentukan arah dan maknanya dari sebuah transformasi.”

Bagi sektor publik, pesan ini menjadi dorongan untuk meninggalkan pola kerja yang terfragmentasi dan bergerak menuju kepemimpinan yang kolaboratif, adaptif, serta berorientasi pada hasil. Pemimpin digital bukan pemimpin yang menyerahkan keputusan kepada teknologi, melainkan pemimpin yang menggunakan teknologi untuk memberdayakan manusia dan meningkatkan kualitas layanan publik.

Suryo Utomo, Kepala Badan Teknologi, Informasi, dan Intelijen Keuangan Kementerian Keuangan RI menjelaskan “Roadmap dan Inisiatif Digital Kementerian Keuangan”

Pada sesi yang sama, Suryo Utomo, Kepala Badan Teknologi, Informasi, dan Intelijen Keuangan Kementerian Keuangan RI, menyampaikan materi tentang “Roadmap dan Inisiatif Digital Kementerian Keuangan”. Diskusi dengan peserta memperlihatkan bahwa transformasi digital membutuhkan komitmen bersama untuk menjawab tantangan layanan publik secara nyata dan kolaboratif.

Sebagai penutup, Dr. Bambang menyerahkan buku “Digital Leadership” kepada Kepala BPPK sebagai simbol pentingnya pembelajaran berkelanjutan dalam membangun pemimpin masa depan.

“Kepercayaan publik hanya dapat dibangun jika pemimpin berani meninggalkan cara lama dan memimpin dengan pola pikir yang adaptif, transparan, serta berorientasi pada kebutuhan masyarakat”

Share