Depok, 29 Agustus 2026 Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menghadirkan inovasi Sistem Informasi Lost and Found KAI Commuter sebagai solusi digital untuk membantu pengelolaan barang milik penumpang yang tertinggal di lingkungan stasiun.
Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) yang dilaksanakan di Kantor Depo KRL Depok, Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat, pada Jumat (28/8). Kegiatan itu tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga mempertemukan kebutuhan operasional di lapangan dengan karya nyata yang lahir dari lingkungan perguruan tinggi.
Kegiatan Abdimas dipimpin oleh Dosen FIK UPNVJ Dr. Bambang Saras Yulistiawan, ST, M.Kom yang dihadiri Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FIK UPNVJ Ibu Ati Zaidiyah, S.Kom, M.TI, berikut sejumlah tenaga kependidikan, dan tim mahasiswa yang terdiri atas Salsabilla Mulyabudiman dan Agmisyaniah dari program studi Sistem Informasi. Perwakilan petugas Passenger Service KAI Commuter hadir untuk mengikuti bimbingan teknis sebagai pengguna yang akan berhadapan langsung dengan proses pencatatan dan penanganan barang temuan disetiap stasiun kereta. Sistem Informasi Lost and Found ini merupakan hasil karya mahasiswa bernama Salsabilla dalam proyek tugas akhir di bawah bimbingan Dr. Bambang Saras Yulistiawan, ST, M.Kom dan Erly Krisnani, S.Kom, MM. Pengembangan sistem berangkat dari kebutuhan akan pengelolaan data barang hilang dan barang temuan yang tertib, cepat, akurat, mudah ditelusuri, serta dapat mendukung pelayanan yang lebih transparan kepada penumpang KAI Commuter.

Melalui kegiatan Abdimas, FIK UPNVJ menunjukkan bahwa tugas akhir mahasiswa tidak harus berhenti sebagai dokumen akademik saja. Karya poenelitian harus dapat dikembangkan menjadi solusi yang menyentuh persoalan nyata, sekaligus memberi manfaat langsung bagi institusi pelayanan publik dan masyarakat ujar Bambang.


Dalam kegiatan bimtek, para petugas lapangan (Passenger Service) diperkenalkan pada fungsi utama sistem, mulai dari pencatatan laporan kehilangan, pendataan barang temuan, pengelolaan penyimpanan di gudang pusat, pencatatan pengambilan oleh pemilik, hingga proses penyumbangan atau pemusnahan barang sesuai ketentuan yang berlaku. Sistem dirancang sebagai sarana digital terpadu untuk mencatat, menyimpan, mencari, memantau, dan menindaklanjuti laporan. Dengan data yang berada dalam satu sistem, petugas dapat melakukan pencarian berdasarkan kategori barang maupun stasiun, melihat riwayat penanganan barang, dan memantau perubahan status secara lebih cepat. Petugas juga memperoleh panduan mengenai alur kerja yang perlu dilakukan sejak menerima laporan atau barang. Tahapan itu mencakup memilih formulir sesuai kebutuhan, mengisi waktu dan lokasi kejadian, mencatat identitas serta ciri barang, melampirkan dokumentasi foto, memeriksa kembali kelengkapan data, kemudian menyimpan dan memantau laporan hingga proses dinyatakan selesai.
Ketelitian menjadi salah satu pesan penting dalam bimbingan teknis tersebut. Satu data yang dicatat secara benar dapat mempercepat proses pencocokan antara laporan kehilangan dan barang yang ditemukan. Sebaliknya, informasi yang tidak lengkap berpotensi memperpanjang pencarian dan menghambat pelayanan kepada penumpang. Materi pelatihan turut menjelaskan status penanganan laporan, seperti laporan aktif, barang yang telah ditemukan atau teridentifikasi, barang yang dipindahkan ke gudang pusat, hingga status selesai setelah diambil pemilik, disumbangkan, atau dimusnahkan. Kejelasan status dinilai penting agar setiap pergerakan barang mempunyai jejak penanganan yang dapat ditelusuri.
Bambang menegaskan komitmen FIK untuk menyerahkan sistem itu kepada PT Kereta Commuter Indonesia tanpa dikenakan biaya. Komitmen tersebut menjadi bagian dari semangat Abdimas sekaligus upaya agar hasil pembelajaran dan penelitian di perguruan tinggi dapat diterapkan secara nyata untuk mendukung peningkatan kualitas layanan publik.
Abdimas ini merupakan aktualisasi Bela Negara yang akan memperkuat pesan bahwa kolaborasi kampus dan industri dapat dibangun di atas kebutuhan bersama. Bagi kampus, kolaborasi membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk menguji relevansi kompetensi mereka. Bagi KAI Commuter, kehadiran sistem dapat menjadi alternatif solusi praktis dalam memperkuat operasional layanan barang tertinggal di setiap stasiun. Bambang menegaskan Bela Negara diwujudkan tidak hanya melalui gagasan besar, tetapi bisa lewat penerapan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, memperbaiki layanan, dan menghasilkan inovasi yang memberi dampak. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut memiliki arti penting karena memberikan pengalaman untuk memahami pengguna secara langsung, dilansir media FIK, jum’at (28/9).
Bimbingan teknis itu juga menempatkan Passenger Service sebagai bagian penting dalam membangun kepercayaan penumpang. Di balik satu barang yang tertinggal terdapat pemilik yang menunggu kepastian. Oleh sebab itu, kecepatan respons, ketepatan data, keamanan penyimpanan, dan komunikasi yang manusiawi menjadi satu rangkaian pelayanan yang tidak dapat dipisahkan. Semangat “melayani sepenuh hati” menjadi benang merah dalam materi yang disampaikan. Transformasi pelayanan dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni mencatat dengan benar, bertindak dengan cepat, dan memastikan setiap laporan ditangani secara bertanggung jawab. Melalui sistem yang mudah, aman, transparan, dan humanis, harapan penumpang untuk memperoleh kembali barangnya dapat dijaga. FIK UPNVJ berharap sinergi dengan PT Kereta Commuter Indonesia dapat terus berkembang, baik dalam implementasi, evaluasi, maupun penyempurnaan sistem. Kolaborasi itu diharapkan menjadi contoh bahwa karya mahasiswa, ketika memperoleh pendampingan yang tepat dan bertemu dengan kebutuhan nyata, dapat tumbuh menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.
Bambang merekomendasilan kepada manajemen KAI Commuter dengan memanfaatkan sistem Lost & Found ini akan memperkuat standardisasi pencatatan antarstasiun, mempercepat koordinasi petugas, serta menyediakan informasi yang lebih konsisten ketika penumpang menanyakan perkembangan laporan barang mereka. Kehadiran Sistem Informasi Lost and Found KAI Commuter pada akhirnya membawa pesan kuat: teknologi memperoleh makna ketika mampu memudahkan pekerjaan manusia dan menghadirkan rasa aman. Dari ruang kelas menuju stasiun, karya mahasiswa FIK UPNVJ dapat memberi harapan agar setiap barang yang tertinggal memiliki peluang lebih besar untuk kembali kepada pemiliknya.
(media FIK/Rayhan)
